Ketika Banjir Dianggap Cuma di Medsos: Cerita Sedih Pejabat yang Alergi Realita
Ada fenomena menarik di negeri ini. Kalau rakyat bilang kelaparan, pejabat bilang “Kan masih ada nasi aking.” Kalau rakyat bilang banjir parah, pejabat bilang “Ah, cuma viral di medsos doang kok.”
Kemarin, ada seorang pejabat tinggi negara—sebut saja Pak S, kepala lembaga yang tugasnya justru menangani bencana—mengeluarkan pernyataan yang bikin ribuan orang pengen lempar sandal ke layar HP. Beliau bilang, situasi banjir di Sumatera itu “hanya mencekam di media sosial.”
HANYA. MENCEKAM. DI. MEDIA. SOSIAL.
Saya ulangi biar makin terasa sakitnya.
Jadi begini logikanya menurut Pak S: Kalau banjir itu cuma ramai di Twitter, Instagram, sama TikTok, berarti banjirnya ga nyata. Air setinggi dada? Itu cuma efek kamera. Rumah terendam? Pasti edited pakai Photoshop. Ribuan orang mengungsi? Mungkin mereka lagi camping bareng, healing gitu.
Valid kan analisisnya? ENGGAK LAH, ANJAY.
Ini seperti dokter yang bilang pasiennya ga sakit karena hasil lab-nya belum keluar. Atau seperti satpam yang bilang ga ada maling karena CCTV-nya lagi mati. Logika macam apa ini?
Yang bikin miris, pernyataan itu keluar dari mulut orang yang SEHARUSNYA paling paham soal bencana. Bukan influencer abal-abal. Bukan buzzer receh. Tapi kepala lembaga yang gajinya dari uang rakyat, yang tugasnya literally ngurusin hal kayak gini.
Warganet—yang katanya cuma bikin situasi jadi mencekam—langsung ngegas habis-habisan. Ada yang nge-thread pengalaman kehilangan rumah. Ada yang upload video keluarganya lagi ngungsi di posko darurat sambil bilang “Ini juga cuma di medsos, Pak?” Ada yang sinis ngirim foto jenazah korban banjir dengan caption yang bikin hati perih.
Tapi tau yang paling menyakitkan? Pak S baru minta maaf SETELAH turun ke lapangan.
Jadi gini timelinenya:
- Banjir terjadi → ribuan orang menderita
- Pak S bilang “cuma viral doang” → netizen murka
- Pak S turun ke lapangan → baru ngeh ternyata parah
- Pak S minta maaf → “Maafkan saya, saya kurang informasi”
KURANG INFORMASI KATANYA.
Bro, kamu kepala lembaga bencana. Kalau kamu aja kurang informasi, siapa lagi yang harus punya informasi lengkap? Tukang parkir?
Ini bukan soal salah ucap. Ini soal mindset. Soal bagaimana sebagian pejabat kita menganggap keluhan rakyat di media sosial sebagai “drama” atau “lebay”. Padahal, di era digital ini, medsos itu justru JENDELA REALITA paling cepat. Ketika jalur komunikasi resmi lambat, rakyat pakai medsos. Ketika bantuan terlambat datang, rakyat teriak di medsos.
Tapi entah kenapa, ada aja pejabat yang menganggap keluhan di medsos itu “cuma cari sensasi”. Seolah-olah orang yang kehilangan rumah punya waktu buat bikin konten clickbait.
Saya jadi mikir, apa pejabat-pejabat kita ini tinggal di dimensi lain? Atau mereka punya definisi berbeda soal kata “mencekam”?
Mungkin menurut mereka, banjir baru dianggap mencekam kalau airnya udah masuk ke kantornya. Baru dianggap darurat kalau mobilnya yang terendam. Baru dianggap serius kalau keluarganya yang ngungsi.
Kalau cuma rakyat jelata? Ya biasa aja. Standar operasional tahunan. Musim hujan kan emang gitu.
Yang bikin sedih, pola ini berulang terus. Pejabat bicara tanpa data. Rakyat marah. Viral. Pejabat minta maaf. Selesai. Besok ada kasus baru lagi. Putaran yang sama. Seperti kaset rusak yang diputar ulang-ulang.
Kita sebagai rakyat jadi bingung. Harus ngapain lagi supaya didengar? Udah teriak di medsos, dibilang lebay. Udah lapor resmi, prosesnya lama. Udah kehilangan segalanya, masih dibilang “hanya mencekam di media sosial.”
Mungkin kita perlu bikin surat resmi pakai meterai, distempel notaris, terus dikirim pakai kurir khusus ke rumah pejabat biar mereka percaya: “Pak, kami beneran banjir. Ini bukan konten. Mohon bantuannya.”
Absurd? Iya. Tapi realita kita emang udah seabsurd itu.
Akhir kata, saya cuma mau ngingetin satu hal: Media sosial itu bukan musuh. Bukan sumber hoax semata. Kadang, medsos itu justru cermin paling jujur tentang apa yang terjadi di lapangan. Dan kalau pejabat masih menganggap keluhan rakyat di medsos itu cuma drama, mungkin mereka yang perlu di-uninstall dari sistem.
“Jangan anggap tangisan di layar lebih ringan dari air mata di lapangan. Keduanya sama basahnya, sama sakitnya, sama nyatanya.”
Terima kasih sudah membuang waktu berharga anda untuk membaca omong kosong ini. Semoga harimu menyenangkan (atau setidaknya tidak menyebalkan).